Senin, 04 Maret 2019

Esai

Tingkat Depresi Pada Mahasiswa Akhir
Mahasiswa akhir adalah sebutan untuk mahasiswa yang sudah memasuki semester-semester akhir, dimulai dari semester 7. Banyak orang, terutama yang tidak merasakan bagaimana perkuliahan, mempertanyakan mengapa banyak mahasiswa akhir yang terlihat depresi. Bukankah, depresi itu sebuah penyakit jika ada masalah yang sangat berat, misalnya broken home?
Depresi, dapat diartikan sebagai sebuah kondisi medis yang dirasakan seseorang, terutama sedih dan frustasi, sehingga dapat berdampak kepada kesehatan mentalnya. Tindakan-tindakan negatif pun dapat dilakukan oleh seseorang yang depresi, salah satunya bunuh diri. Untuk itu, kita tidak dapat sembarangan men “judge” seseorang depresi, dan jangan juga seenaknya meremehkan mereka.
Mahasiswa akhir memang cenderung merasakan depresi, tetap tidak akut. Tugas yang banyak, belum lagi mengejar-ngejar dosen pembimbing skripsi supaya bisa cepat wisuda, tapi berminggu-minggu konsul, tidak ada perkembangan. Selalu berakhir dengan kertas yang dicoret-coret dan dikuliahkan kembali secara pribadi di ruangan sang dosen.
Belum lagi jika bertemu teman-teman SMP-SMA saat reuni, banyak yang sudah wisuda, banyak yang berkabar akan melanjutkan kuliah, ada yang sudah beranak dua, atau yang karier nya sudah menanjak. Sedangkan sang mahasiswa akhir ini, hanya bisa mendengarkan dengan tersenyum pahit, karena naskah skripsinya masih diulang-ulang di Bab 2.
Keluarga pun tidak ada bedanya. Kumpul keluarga besar, bukannya bersenang-senang, bukannya saling tanya kabar sambil tersenyum sumringah dan makan enak, malah ditanya “kapan sidang?”. Pertanyaan yang jawabannya sangat sulit dicari oleh mahasiswa akhir. Pertanyaan “keramat”, kalau kata mereka. Tidak ada orang yang boleh sembarangan menanyakan itu.
Faktor-faktor ini tentunya membuat seseorang semakin frustasi dan memaksakan diri untuk menyelesaikan pendidikan nya di bangku perkuliahan. Disinilah tanda depresi dapat kita ketahui. Kita tahu, tidak semua hal dapat berjalan dengan lancer. Begitu juga skripsi. Serajin apapun kita, sebisa apapun kita, faktor jenuh dan merasa tidak sanggup pasti tak dapat dihindari.
Dan akhirnya, depresi pun tak terelakkan. Di Indonesia, sistem pendidikan yang sangat ketat membuat banyak mahasiswa akhir akhirnya menyerah dengan mengakhiri hidup mereka. Karena? Ya, depresi. Sekali lagi, depresi tidak dapat dipandang enteng. Sudah banyak kejadian yang tidak mengenakkan diakibatkan dari depresi ini.

Artikel

Pengaruh Dari Pendidikan Terhadap Kualitas Anak Di Pedalaman
Sudah bukan hal yang sifatnya rahasia lagi bahwa anak-anak yang kebetulan tinggal di kawasan pedalaman amat sulit untuk memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana yang didapatkan oleh anak-anak secara umum, terlebih anak-anak yang belajar di kawasan perkotaan. Selain sulit memperoleh pendidikan yang layak, mereka pun juga seringkali sulit mendapatkan air yang bersih. Bahkan pendidikan yang mereka dapatkan seringkali hanya sebatas kelayakan dari pendidikan Indonesia. Mereka juga banyak yang ketinggalan jaman dan cenderung tidak mengikuti perkembangan jaman. Selain itu, mereka bahkan juga seringkali tidak bisa mengenal alat komukasi semisal Hp yang menjadi salah satu trend jaman modern.
Dari beberapa permasalahan anak-anak di kawasan pedalaman yang ada saat ini, kesulitan memperoleh pendidikan yang layak menjadi sorotan pokok di era saat ini. Idealnya mereka akan mengenyam pendidikan selama 12 tahun. Namun untuk faktanya sendiri mereka sulit bahkan untuk sekedar menjangkau lokasi untuk sekolah, bahkan mereka harus rela mengarungi sungai untuk mendapatkan pendidikan. Ada juga kawasan yang mengharuskan anak didiknya berjalan kaki hingga mencapai puluhan kilo meter. Tidak hanya itu, di antara mereka juga banyak yang tidak menggunakan alas kaki saat sekolah.
Yang amat disayangkan dari pendidikan anak-anak di pedalaman adalah masalah kurangnya tenaga pengajar yang ada di pedalaman, serta kesulitan dalam mendapatkan tenaga pengajar yang berkenan untuk mengajar di kawasan pedalaman tersebut. Padahal untuk kualitas dari seseorang bisa dilihat salah satunya adalah dari seberapa tinggi dan layak pendidikan yang didapatkan. Tentu saja orang yang sudah sarjana mempunyai kualitas yang lebih tinggi dan cukup mumpuni dibandingkan dengan yang lulusan sekolah dasar. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dan harus diutamakan karena ia sangat mempengaruhi kualitas dari seseorang, khususnya anak-anak yang saat ini berada di daerah pedalaman.